Thursday, 9 September 2021

9 Hari di Korea Selatan - Hari Keempat

Jadwal hari keempat adalah harinya Nami Island, yeai!! 

Rerata turis dari Indonesia akan menyempatkan waktu untuk mengunjungi Pulau Nami, secara, dulu drama Winter Sonata sangat populer di Indonesia. Dan inilah kami, sama seperti turis kebanyakan, berkunjung ke Nami Island!

Awalnya kami berencana akan menggunakan rail pass yang kemarin dipakai ke Busan. Tapi, karena harus menggunakan rute khusus yang lebih rumit dan membuat kami tersesat entah dimana, sampai harus bolak balik naik jalur yang sama, untuk menghemat waktu, akhirnya kami membeli tiket baru di Stasiun Wangsimni yang menjadi hub untuk ke Nami. Haha, rusuh nih pagi-pagi. 

Wangsimni Station 

Diperjalanan di kereta menuju Nami, kami disuguhi pemandangan bukit yang indah dari jendela kereta. Check this out!

Setelah sampai di Stasiun Gapyeong, kami melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan ferry dengan menggunakan taxi dengan biaya sebesar KRW4.000 atau sekitar IDR52.000. Tidak mahal siy menurutku (secara itu tempat wisata). Sebenernya ada opsi lain, yaitu naik bus, tapi karena musti menunggu jadwal berikutnya, demi menghemat waktu, kami pilih naik taxi saja. Sayangnya, kami tidak dokumentasikan perjalanan naik taxi ini. 

Okeh singkat cerita, sampailah kami di pelabuhan untuk menyeberang ke Pulau Nami. Segera kami membeli tiket (ferry dan tiket masuk nami) dengan harga tiket per orang KRW14.000 atau sekitar IDR170.000, mahal siy, tapi seperti yang sudah kusampaikan sebelumnya, gapapa mahal sepanjang uangnya benar-benar digunakan untuk merawat obyek wisatanya. 

Tiket masuk Nami Island. 
Pintu gerbang. Itu tulisan immigration cuman tulisan aja, ga dicek passpornya, cuman cek tiket.  
Kami di depan kapal ferry yang akan membawa kami ke Nami Island. 

Perjalanan ke Pulau Nami memakan waktu kurang lebih 30 menit. Di dalam kapal, kita bisa pilih berada dalam ruangan atau jalan-jalan di deck. Karena anginnya cukup kencang waktu itu, aku stayed di dalam ruangan dan Dika yang melakukan eksplorasi deck. Di dek kita bisa lihat bendera berbagai negara (mungkin daftar negara wisatawan yang pernah ke Nami). Berikur video bagaimana penampakan dalam kabin:

Begitu mendarat, ada satu hal yang langsung menarik perhatian, yaitu sisa salju di dekat dermaga. Tentu saja karena craving for snowy thingy, kami photo-photo disekitar salju sisa tersebut. Haha. 
Yeaiii saljjuuhh... wkk
Setelah foto di depan salju tadi, jangan lupa foto di depan pintu masuk Nami Island. Ini bukan salju, tapi patung manusia salju.

Di dalam area Nami, banyak sudut atau tempat yang bisa dilihat dan bagus semua kalau foto disitu. Tempatnya juga bersih dan rapi, khas tempat wisata Korea. Ada juga tempat ngopi dan tempat beli souvenir yang menyenangkan (Dika yang beli, awak beli kopinya ajah). 
Ini penampakan warung kopinya. 

Setelah istirahat minum kopi, lihat souvenir, dan aku sempet poop loh (btw kamar mandinya bersih banget, jadi nyaman), asik khaan. Selanjutnya kami berencana mau ke pohon yang tinggi-tinggi itu yang dipakai buat syuting Winter Sonata. Dan yang bikin dudul adalah udah sempet photo di penunjuk arah kalau mau ke pohon mapple ke kiri, eh kami malah ke kanan. Yawlaahhh... haha, akhirnya kami mengelilingi satu pulau dulu sebelum mencapai area pohon-pohon yang tinggi itu. Dan ternyata banyak spot yang menarik yang bisa dijadikan tempat photo. 
Ini nih penunjuk jalan itu, harusnya ke kiri malah ke kanan, duh. 
Kenapa kami langsung ke kanan? Itu karena kami melihat pemandangan ini, pohon tinggi dan jalanan yang kosong. Menarik khaan.. Hmm ga heran jalur yang sini sepi, karena orang-orang langsung ke arah kiri tadi buat foto di pohon pinus/pohon mapple
Cheonsa Tap Garden / Four Pillars to Heaven atau lebih tepatnya 4 susunan batu yang menyerupai piramida kecil
White Birch Lane. Disini berhasil ambil foto a couple yang lagi sepedaan. Jadi mirip ama adegan di Winter Sonatah. 
Ini adegannya. 
Sumber: https://bit.ly/2Tbn6JB 
Ini juga spot foto yang menarik.
Saking sepinya, kami bisa bikin foto lompat kaya gini. Seruu... 

Lanjut terus menyusuri jalan ini, akan ditemukan petunjuk arah beberapa tempat yang bisa dikunjungi oleh wisatawan, salah satunya adalah lokasi adegan first kiss nya Winter Sonata.  
Salah satu papan petunjuk arah yang kami lihat. 
Ini lokasi first kissnya, sampai dibuatin patung salju demi memuaskan orang-orang :D
Ini adegannya :D
Sumber: https://bit.ly/3kv6aZJ 
Jangan lupa foto disini, yah, itung2 udah jauh
Disini juga, ada patungnya pemeran utama winter sonata. 
Lalu, akhirnya menemukan pohon ini. Rame banget, susah dapat foto yang sendirian diantara pohon2 ini. Yang bikin kagum adalah: pohon dipelihara, dan bisa jadi obyek wisata yang ga main-main hasilnya. 

Setelah puas mengelilingi dan berfoto di Pulau Nami, kami segera balik naik ferry ke daratan Korea untuk menuju Petite France. 

Petite France

Dari Nami ke petite france kami naik bus (yang seharusnya kami naiki pas pertama kali turun di gapyeong station). Harga bus per orang KRW6.000. 

Mengapa penting ke Petite France? Karena lokasinya tidak jauh dari Nami (biasanya ditawarkan satu paket wisata kalau menggunakan tour). Selain itu, mengapa harus ke Petite France, buat aku karena tempat ini merupakan salah satu tempat syuting Running Man, variety show favorit aku. Trus ternyata tempat ini juga jadi tempat syutingnya drama Beethoven Virus, Secret Garden, dan My Love from the Star, yang ternyata aku tidak tonton semua.  

Sebelum masuk akan ditemui welcoming mark seperti ini. 
Coba cek Running Man episode 40 dengan bintang tamu 2PM, pasti langsung inget area ini. 
Pertunjukkan bonekanya bagus banget,,,, harus nonton kalau kesini.

Berikut beberapa foto-foto yang menunjukkan betapa cantiknya Petite France. Fyi, di Strasbourg France, juga ada tempat yang namanya persis dengan Petite France di Korea Selatan, info lebih lanjut cek disini. Dan memang yang di Korea merupakan replika dari yang di Strasbourg. 

Sisa dekorasi Natalnya masih ada, jadi cantik bangett...
Rumah-rumah yang ada di lokasi ini beberapa ada yang disewakan. 
Ada spot foto seperti ini juga. Nah, ikon Petite France ini adalah little prince yang sama kata di Gamcheon Cultural Village, cek perjalanan hari ketiga
Salah satu sudutnya mirip dengan pengkolan di  Rothenburg, namanya Plonlein.

Setelah puas-puasin keliling Petite France (kayanya sampai hampir tutup), kami melanjutkan perjalanan ke Garden of Morning Calm. Kebetulan banget saat itu sedang ada festival lampu, jadi ya sekalian didatangi. 

The Garden of Morning Calm 

Untuk menuju Garden of Morning Calm, kami naik bus yang tiketnya sudah sepaket keliling 3 obyek wisata ini. Cuman karena ada batasan jam, kami harus sering-sering cek waktu agar tidak ketinggalan bis terakhir untuk ke stasiun dan menuju Seoul. 

Ini penampakan bisnya. 

Pas sampai di Garden, masih terang, jadi lampunya tidak terlihat gemerlap. Sambil menunggu gelap, kami makan dulu. 

Ini tiket dan panduannya. Harga tiketnya lumayan siy, tapi worth it (menurutku).
Ini pintu masuknya, sudah nampak lampu-lampunya hidup tapi belum gemerlap.

Ini juga belum terlihat indah. 
Sambil menunggu gelap, kami makan di resto yang ada di dalam area ini. Karena udah tau kalau beli meal di Korea itu banyak side dishnya, kami cuman pesan satu menu. Yang penting ngisi perut dulu, karena tau bakal sampai Seoul malaman. 

Berikut adalah foto-foto saat sudah gelap, cantik kan. 

Kalau dilihat pakai mata langsung, jauh lebih menakjubkan. 
Boat and dolphins.
Tanaman-tanaman yang dihiasi lampu. 

Magic mushrooms.
Karena tidak banyak waktu tersisa, kami tidak bisa berlama-lama. Seingetku udah semua dikelilingi, yah walaupun kalau bisa lebih lama lebih bagus siy. Waktu itu kami mikirnya, jangan sampai ketinggalan bus terakhir karena besok jadwalnya Jeju. Harus packing dan besok pagi-pagi sekali ke bandara.

Setelah ganti-ganti moda transportasi, akhirnya sampai di penginapan sekitar jam 9 malam. Finally, day 4 done. :) 

No comments:

Post a Comment