Dika dan saya memiliki visi dan misi yang sama dalam travelling kali ini, yaitu tidak mau rugi dan ambisius. Kami sangat ingin memanfaatkan waktu semaksimal mungkin agar seluruh lokasi yang kami ingin kunjungi dapat dikunjungi. Pada praktiknya, meskipun tidak semua berhasil disambangi, at least kami sudah berupaya untuk itu dan puas karena sudah berusaha.
Oke, next. Hari kedua. Kami bangun pagi sekali dan jam stengah 8 sudah ready, sudah selesai packing. Hari itu kami harus check out dari penginapan. Rencananya, koper dititip di penginapan dan diambil nanti malam setelah selesai mengeksplor area disekitar. Ternyata, kami readynya kecepetan, si oppa penjaga penginapan tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Alhasil, kami gunakan waktu yang ada untuk berfoto ria.
 |
Cerah ceria hari kedua. Karena koper dititipkan di penginapan dan tidak ada loker khusus, barang-barang kami ditaruh di depan kamar, dan aman-aman aja pas kami ambil malam harinya
|
Tidak lama kemudian si oppa bangun. Segera kami menyelesaikan pembayaran dan minta izin untuk nitip koper yang akan diambil malam hari nanti. Setelah beres, kami langsung cuss ke tujuan pertama hari itu, yaitu keliling Bukhon Hanok Village.
Bukchon Village
Karena penginapan sangat dekat ke Bukchon Hanok Village, kami jalan kaki saja ke sana. Sengaja berangkat pagi agar sesampainya disana tidak terlalu banyak orang. Dalam perjalanan, ada yang menarik: papan tulisan di pinggir jalan yang ada tulisannya 'Before I die..." Mungkin maksud si pembuat papan ini adalah untuk mengingatkan orang yang melewatinya untuk memiliki mimpi dan melakukan banyak (baik) sebelum terlambat. Choa.
 |
Before I die, I want to ... (buanyak) :) Kalau kamu pengen ngelakuin apa aja?
|
Beberapa menit kemudian sampailah kami di area Bukchon Hanok Village. Meskipun tidak berhasil menemukan spot foto yang paling terkenal di Bukchon Hanok Village, kami cukup bahagia dengan hasil foto-foto disana. Chekidot. Kalau aku bisa ke Korea Selatan lagi, definitely i will revisit this place and dress up in hanbok.
 |
| Bahagia banget loh kami, padahal cuman foto ama tembok rumah orang aja. |
 |
Salah satu pengkolan.
|
 |
Another pengkolan.
|
Selanjutnya, setelah puas roaming around di village ini, kami melanjutkan agenda selanjutnya, yaitu sewa baju tradisional Korea (hanbok) dan foto-foto di palace.
Temperature of Love (drama)
Dalam perjalanan dari village ke tempat sewa hanbok, tak sengaja kami menemukan lokasi syuting drama korea Temperature of Love. Karena kami nonton dan menyukai dramanya, seneng banget bisa nemu restoran Good Soup (nama di drama). Rasanya kaya nemu harta karun, hihi. Ternyata aslinya tempat tersebut bangunan gedung biasa, bukan restoran. Tapi jangan nanya itu lokasi tepatnya dimana ya, yang jelas di area Bukchon.
 |
| Restoran Good Soup di drama Temperature of Love yang berlokasi di area Bukchon. |
 |
Masih ada plangnya, lumayan buat foto-foto.
|
 |
Salah satu adegan di depan restoran. Choa. Choa. Sumber foto: google.
|
Hanbok
Seperti yang sudah diceritakan dalam
posting sebelumnya, kami menyewa hanbok di Hanboknam. Tempat ini memiliki (mungkin) lebih dari seribu dress (cowok dan cewek, dewasa dan anak) yang disewakan ke turis. Dan ada banyak tempat penyewaan hanbok di daerah ini. Jadi opsinya banyak dan harganya menjadi tidak terlalu mahal.
Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama untuk memilih warna dan corak, akhirnya aku pilih tradisional hanbok warna biru dan putih, sedangkan Dika pilih hanbok modern warna biru tua. Paket sewa hanbok disini sudah termasuk benerin rambut, so kenapa tidak. 😍 Taadaaa! beginilah penampakan kami
 |
Tradisional vs modern, cantik semua kan :)
|
Karena tidak memungkinkan untuk bawa tas ransel dan pernak pernik lainnya, demi kenyamanan bersama, kami memutuskan untuk sewa loker. Selanjutnya, kami jalan kaki menuju istana Gyeongbokgung Palace, dengan separuh menahan rasa malu dan separuhnya lagi excited! Bayangin, sepanjang jalan kami pakai baju kaya gitu, tapi untungnya temennya banyak, jadi ga malu-malu bangetlah. Kalau kesana harus dan wajib nyoba pakai hanbok, pengalaman yang akan kulakukan lagi jika berkesempatan ke Korea lagi.
Gyeongbokgung Palace
Setelah beberapa menit berjalan (ga jauh) akhirnya kami sampai di istana. Agak sulit memang menemukan pintu masuk istana. Karena harus masuk dari gate depan, kami harus berjalan agak sedikit memutar, tapi ga jauh kog dan tidak melelahkan karena sepanjang jalan kami asik pose-pose dan didukung udara yang masih agak dingin.
 |
| Beginilah salah satu pose sepanjang perjalanan menuju gerbang istana. Pakai foto si Dika, karena foto awak ga ada yang bener :D |
Sesampainya di istana, seperti turis pada umumnya, kami sibuk berfoto ria, dan mengeksplor istana yang begitu terawat dan bisa coexist dengan kehidupan modern disekitarnya. Berharap, istana-istana di Indonesia juga bisa memonetize heritage dan bisa menggunakan dananya untuk merawat peninggalan sejarah tersebut. Oiya, bagi mereka yang menggunaka pakaian tradisional Korea dibebaskan dari tiket masuk Gyeongbokgung Palace. So, kalau kesini pastikan pakai hanbok yaa..
 |
Hampir semua orang dress up pakai baju Korea, Menyenangkan.
|
 |
Ramainya suasanya di istana.
|
 |
| Salah satu sudut istana yang sangat pas untuk dijadikan lokasi foto. Cek aja di google, berapa banyak orang pose di lorong ini. |
 |
Salah satu atraksi yang menarik disekitar area istana adalah pergantian penjaga istana. Orang rla berkerumun dan menunggu atraksi ini. Sama kaya pergantian penjaga di Buckingham Palace di London.
|
 |
Istana ini sangat luas dan terdiri dari beberapa kelompok bangunan. Kami menemukan salah satu area yang cukup sepi dan puas-puasin ambil foto di area ini.
|
National Folk Museum of KoreaDi area istana ada National Folk Museum of Korea, yang lagi-lagi, kalau pakai hanbok tidak perlu membayar tiket masuk. Dalam museum terdapat banyak artifak atau benda kuno dan juga replika segala macam barang dan hal yang menujukkan perkembangan budaya Korea.
 |
Replika rumah tradisional korea.
|
 |
Replika makanan tradisional Korea.
|
 |
Replika salah satu event jaman kerajaan.
|
Makan Siang
Setelah 4 jam, kami harus segera mengembalikan hanbok, otherwise kami bakal kena denda keterlambatan pengembalian. Setelah beres, saatnya makan siaaanggg!. Karena ga ada preferensi khusus harus makan apa dimana, akhirnya kami keliling di area pusatnya Bukchon dan disitu kami menemukan warung mie yang cukup rame. Yang bikin meyakinkan lagi, dipintu depan tertempel foto-foto acara varietyshow yang sepertinya mengambil lokasi di warung itu. Oke mari kita coba.
 |
| Ga ngerti apa nama restorannya. Yang penting rame dan jual mie. |
 |
Pesen mie yang paling simpel, karena ga berani coba-coba, takutnya malah ga kemakan.
|
 |
Beginilah suasana di dalam restoran korea asli. :D
|
Tea House Whitebirch Story (Goblin, Touch Your Heart)Setelah makan siang, kami memutuskan untuk nongkrong dulu di tea house Whitebirch Story. Kenapa kesana? Karena disana salah satu tempat syutingnya Goblin, drama favorit. Selain Goblin, ternyata stelah balik dari Korea, baru tau kalau tempat ini juga dipakai syuting drama Touch Your Heart. Yeaii, seneng banget bisa mampir ketempat ini.
Sebenernya pagi harinya kami sudah menemukan tempat ini sebelum ke Hanboknam. Tapi pagi itu kami sudah punya rencana lain dan cafe ini belum buka juga. Akhirnya kami putuskan untuk nongkrong setelah makan siang. Haha...
 |
| Adegan di goblin. Kami ga bisa duduk di spot yang persis, tapi kami berhasil duduk disampingnya. Sumber foto:google |
 |
Tembok legend.
|
 |
| Penampakan Whitebirch Story dari depan. Nah tembok yang sebelah kiri itu buat syuting Touch Your Heart. |
 |
| Filming location Touch Your Heart. Sumber foto: google. |
King Sejong Statue dan Admiral Yi Sun Shin Statue
Setelah puas nongkrong, kami melanjutkan perjalanan untuk jalan-jalan di pusat kota. Salah satu spot yang ini kami kunjungi adalah King Sejong Statue. Untuk kesana kami harus melewati kembali Gyeongbokgung Palace. King Sejong Statue berada di plaza (alun-alun) di depan pintu utama Palace. Di plaza tersebut memang digunakan oleh masyarakat dan turis untuk berfoto-foto. Bersih dari tukang jualan juga, jadi nyaman.
 |
Di seberang gate Palace ada statue juga yang kalau dilihat dari sudut tertentu statue tersebut tidak nampak. Keren. Kalau dilihat-lihat orang Korea ini suka banget ama hal-hal yang berbau seni. Sepanjang jalan, bisa dilihat beberapa statue yang tersebar di sudut kota. Menarik.
|
 |
King Sejong Statue.
|
Dibawah plaza tempat King Sejong Statue ini, ada museum gratis yang bisa dikunjungi oleh semua orang, yaitu King Sejong Exhibition Hall dan Admiral Yi Sun Shin Museum. Kedua museum ini lokasinya saling menyambung, full AC dan bersih sekali.
 |
| Hangeul (aksara Korea) dipreserve di jaman King Sejong ini. |
 |
Ga ngerti ini apa bacaannya.
|
Dari museum ini, sekali lagi, menunjukkan bahwa orang Korea ini sangat menghargai budaya dan sejarah. Juga bisa menyediakannya secara gratis untuk khalayak umum. Daebak. Meliat bagaimana hangeul ini dibudidayakan dan dilestarikan oleh Korea, jadi pengen belajar aksara jawa lagi, itung-itung turut nguri-uri budaya jawi. :D
 |
Berhadap-hadapan dengan King Sejong Statue, ada juga patungnya Admiral Yi Sun Shin, yang berhasil memenangkan pertarungan melawan Jepang selama 7 tahun.
|
Susu PisangSalah satu to do list nya Dika ketika ke Korea adalah minum banana milk legendaris yang sering banget muncul di banyak drakor. Karena awak ga minum susu selain susu coklat, jadinya yang cobain hanya si Dika. Enak katanya. :D
 |
Susu Pisang Legendaris
|
Cheonggyecheon Stream
Setelah dari King Sejong Statue kami melanjutkan perjalanan ke Cheonggyecheon Stream, sungai ditengah kota yang sangat terkenal dan sering dijadikan study banding beberapa pemerintah daerah di Indonesia.
 |
Sponsor yang ikut merevitalisasi sungai. Presentasinya disampaikan secara sederhana dalam papan kayu, tapi terlihat sangat klasik.
|
 |
| Bagian Sungai yang masih ada suasanya naturalnya. |
 |
Sisi lain sungai, yang sudah sangat dimodernkan.
|
 |
Diujung sungai ini ada patung keong yang dinamakan Spring yang dibuat oleh Claes Oldenberg. Kami lihat waktu itu ada orang yang berdoa di patung keong ini loh.
|
Makan malam di Insadong
Dari Stream ini kami jalan kaki menuju Insadong karena ingin mengunjungi komplek pertokoan Ssamzigil yang katanya setiap sudut menarik. Setelah lihat ulang foto-fotonya kayanya memang menarik siy, cuman aslinya pas kami sampai disana seperti terkesan biasa saja. Mungkin karena kami sudah capek dan lapar hehe. Berikut beberapa situasi Insadong yang berhasil didokumentasikan.
 |
| Resto di Insadong. |
 |
| Selamat makann... btw, bibimbab nya enak bangeetttttt |
Balik ke Stay256, ambil koper, dan pindah penginapanSetelah dari Insadong kami ke Stay256 untuk ambil koper dan pindah ke penginapan kedua, Uja Guesthouse di daerah Mapogu. Seperti yang sudah diceritakan dalam posting sebelumnya, ternyata pindah penginapan di daerah ini ga ada fungsinya, karena jauh dari mana mana, kalau boleh memutar waktu, mendingan tetap stay di daerah Bukchon (yang memang agak mahal ratenya, tapi deket kemanamana) atau daerah Myeongdong.
Dari Bukchon ke Mapogu, kami naik, finally, bus Jongno 11, yang pada saat sampai Seoul susah banget dicarinya sampai kami tersesat dan naik taxi. Bus Jongno ini warnanya ijo dan sering muncul di berbagai drama korea.
 |
Dalam bus Jongno11. Asik banget memang transportasi umumnya. Bener2 udah negara maju Korsel ini. Kapan yaaa, Indonesia bisa kaya gini.
|
Ternyata tidak semudah itu Ferguso, setelah sampai di area Mapogu, kami kesulitan mencari lokasi penginapannya, sehingga harus bolak balik naik tangga untuk nyebrang jalan, dengan membawa koper. Mabok siy, tapi seru, haha. Begini momen naik turun tangga malam itu.
Karena sudah sampai penginapan kedua maka perjalanan hari kedua selesai sudah. Cerita tentang apa aja yang ada di Uja Guesthouse akan diceritakan nanti. Sampai jumpa di perjalanan hari ketiga di Korea dalam postingan selanjutnya. Annyong.
No comments:
Post a Comment