Thursday, 3 December 2020

CATATAN 2020 #1

Tahun 2020 ini merupakan tahun yang tidak mudah. Tidak hanya buatku saja tapi juga bagi seluruh insan di dunia. Bagaimana tidak, praktis di tahun 2020, hanya 2 bulan lebih kita merasakan hidup normal. Mulai Maret 2020, mulailah segala jenis bentuk pembatasan kegiatan melalui PSBB, karantina wilayah, work from home, sampai terbatasnya operasional transportasi umum jarak jauh. 

Aku inget banget awal Maret 2020 aku bilang, aku akan tetep ngantor karena lebih fokus dan nyaman kalau kerja di kantor. Kursinya ergonomis, layar komputer besar, dan allday tidak bakal kepanasan. Awalnya masih ada beberapa teman yang berniat ngantor (jadi ada teman ke kantor), sampai lama-lama susah sekali nemu teman yang mau ke kantor. Juga saat itu ada aturan tidak boleh ke kantor kalau tidak urgen. Akhirnya, oke, stuck WFH and deal with it. 

Sebagai manusia yang kodratnya mampu beradaptasi dengan lingkungan, mau ga mau jadi terbiasa kerja dari rumah dengan segala keterbatasannya. Untungnya kamarku lumayan besar dan ada di lantai 2, jadi aku punya space sendiri (tidak bertabrakan space dengan mbak dan mas sepupu). 

Untuk membuat lebih nyaman, aku  beli meja kayu yang lumayan besar (menggantikan meja laptop kecil). 

Untungnya lagi, ternyata pada masa awal WFH ada pekerjaan yang sangat demanding dan urgen, sehingga mau tidak mau beradaptasinya berada dibawah tekanan dan langsung ngegas. Sehingga, aku jadi tidak ngelangut tidak tau mau ngapain, mau keluar rumah juga tidak bisa. Well, here I am, masih survive dan masih WFH. 

Ada beberapa kali siy ke kantor, ada yang karena urgen, ada yang karena butuh, ada yang karena pengen ke kantor, dan ada karena janjian dengan teman. Tapi kalau kuhitung, rasanya tidak lebih dari 10 kali. Berikut salah satu momen di kantor selama pandemi yang sempat kuabadikan.

Balik ke Solo pun, dari yang tiap 2 minggu sekali, parktis sejak Maret sampai dengan November ini, aku baru balik 3 kali mudik yang semuanya naik jalan darat. Dari yang tiap weekend pergi pergi (entah ke Solo, ke kota lain, atau sekedar nongkrong di kota ini) jadi stay at home dan pergerakannya menjadi terbatas. Suatu perubahan yang drastis. Ini sesuatu yang tidak bisa kubayangkan sebelumnya. Tapi sekali lagi ternyata aku bisa bertahan sampai saat ini meskipun ada saat-saat yang sangat enggak banget. 

Aku masih sangat beruntung. Melihat bagaimana bapak/ibu dan teman2 lain yang berjuang di luar sana, kadang bikin mbrebes mili. Ternyata dampaknya separah itu. Walaupun akhir-akhir ini, sepertinya semuanya sudah "terasa kembali menjadi normal". Tidak banyak yang bisa kulakukan untuk membantu roda tetap berputar. 

Aku berharap pandemi ini segera berlalu. Semoga vaksin bisa segera disebarluaskan secara bebas terutama kepada mereka yang sudah sepuh, yang sedang sakit, para tenaga medis, para pekerja yang harus bertemu dengan banyak orang. Semoga pimpinan menemukan jalan untuk memulihkan kembali ekonomi. Amen. 

No comments:

Post a Comment