Tuesday, 20 February 2018

SEKOLAH PASAR MODAL

Hari Sabtu, tanggal 10 Februari 2018 lalu, Ai berkesempatan ikut Sekolah Pasar Modal. Motivasi utama kenapa ingin ikutan adalah karena ingin mendalami proses transaksi di Pasar Modal setelah sekian lama tertunda. Biasa, procrastination. Selain itu, setelah penempatan di tempat baru saya harus mau tidak mau mendalami pasar modal. At least, tau gimana cara kerjanya dari sisi investor.

Dan setelah bertanya kesana kemari, akhirnya saia memutuskan untuk ikut sekolah pasar modal, dengan tujuan mengetahui basic information terlebih dahulu sebelum bertanya ke rekan kerja yang sudah lebih berpengalaman dalam hal ini. Sekolah pasar modal tidak dipungut biaya alias gratis, untuk itu rasanya perlu registrasi beberapa minggu bulan sebelumnya melalui https://sekolahpasarmodal.idx.co.id/. Ada dua lokasi yang bisa dipilih, yang satu di BEI pusat, satu lagi di Kelapa Gading.

Untuk pembukaan rekening saham, peserta diminta untuk menyetor Rp100.000,00 ke Philip Sekuritas sebagai partner BEI dalam penyelenggaraan sekolah Pasar Modal. Nantinya, uang ini akan menjadi menjadi modal awal peserta untuk mulai bertransaksi saham.

Beberapa catatan menarik dari kursus ini adalah sebagai berikut:
  1. Investasi diperlukan untuk menahan laju inflasi seiring berjalannya waktu. Yang pasti uang 100.000 sepuluh tahun yang lalu nilainya berbeda dengan uang 100.000 saat ini. Salah satu cara berinvestasi adalah melalui pasar modal, yaitu dengan membeli efek (saham, reksa dana, obligasi).
  2. Rerata per tahun, hasil investasi saham mencapai 13.13%, lebih tinggi daripada return investasi di tabungan 2.53%, emas 7.30%, dan obligasi negara 8.96%. Menarik.
  3. Keuntungan lain dengan investasi di pasar modal adalah tidak memerlukan dana yang besar. Contoh, per 9 Feb 2018, untuk beli 1 lot (100 lembar) saham Bank BRI, hanya butuh sekitar Rp.380.000. O iya, pembelian/penjualan saham dibatasi minimal 1 lot. Tapi ada pasar nego kalau ingin membeli dan menjual dibawah 1 lot.
  4. BEI sendiri lebih ingin agar masyarakat Indonesia menjadi investor daripada menjadi trader.
  5. Berdasarkan data BEI, kepemilikan saham saat ini lebih banyak dikuasai investor asing (51.33%). Ga jauh siy, semoga segera bisa disusul. Kata mbak BEI nya, tipe investor Indonesia itu adalah follower, jadi kalau investor asing ramai2 tarik dana, investor domestic akan mengikutinya. Dan ini tidak bagus buat pasar modal Indonesia, karena ketergantungan kepada asing menjadi tinggi.
  6. Satu ilustrasi yang menarik adalah, misalnya A lebih suka menabung di Bank BRI karena percaya BRI adalah bank terbaik. Kalau begitu kenapa tidak menjadi pemiliknya sekalian saja dengan beli sahamnya bank BRI? Oke, got it.
  7. Salah satu saham yang anti krisis adalah Unilever, karena produk unilever telah menjadi bagian dari hidup dari masyarakat Indonesia. Sebut saja, lifebuoy, rinso, pepsodent, molto. Dan harga per lembar sahamnya sekarang mencapai Rp55.400. Mungkin, Indofood juga bisa disebut saham anti krisis, siapa yang ga makan indomie coba? :D
  8. Tapi tentu saja, berinvestasi di saham ada risikonya, seperti capital loss (kalau harga jual lebih rendah dari harga beli), perusahaan ga bagi deviden (BCA katanya jarang bagi dividen, tapi harga sahamnya bagus; BRI yang rutin bagi dividen), saham disuspen BEI karena ga kooperattif (ga melaporkan laporan keuangan), delisting (menjadi perusahaan tertutup secara sukarela ataupun dipaksa regulator), likuidasi (dinyatakan bankrupt). Untuk itu, seorang investor atau trader yang baik harus mampu mencari informasi yang valid terkait saham yang akan dibeli,
  9. Salah satu cerita tentang perusahaan yang go private secara sukarela adalah AQUA di tahun 2010. Untuk membeli kembali sahamnya, AQUA harus membayar 500.000/lembar saham padahal harga IPO nya tahun 1990 cuman Rp.7.500. Beruntung banget yang punya saham aqua waktu itu. Tapi, lain cerita kalau delistingnya karena perusahaannya kacau. Gigit jari deh.
  10. Baru tau kalau mau beli saham itu kita harus nge bid. Kaya lelang. Itu yang membuat pergerakan harga saham.
Yuk menabung saham!

No comments:

Post a Comment